Komplikasi Dunia Ormawa

KOMPLIKASI DUNIA ORMAWA
Oleh : Mifthah Arfiansyah
Pimpinan Umum UKM Pers SUKM
A


Mahasiswa merupakan suatu sosok yang mampu membawa perubahan bagi negaranya. Baik berupa perubahan yang baik maupun perubahan yang buruk. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan, kepribadian mereka masing-masing dan soft skill yang mereka miliki. Contohnya saja kejadian demo yang sering terjadi ketika harga BBM melambung naik. Banyak mahasiswa yang melakukan demo secara ego pribadi atau kelompok semata dengan banyak menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Bukannya memberikan jalan terang dan perubahan malah mengakibatkan keresahan masyarakat, apa itu yang namanya mahasiswa ?. 
Hal ini dapat menyebabkan citra mahasiswa dimata masyarakat tidak lagi menjadi baik. Seharusnya sebagai kaum yang berpendidikan tinggi, hendaknya tidak melakukan demo secara serampangan, tapi lakukanlah demo secara terarah dengan memberikan saran, solusi dan jalan penyelesaian untuk perubahan kearah yang lebih baik, bukannya saling baku hantam. 
Kalau dilihat dari aspek keuntungannya, demo hanya memberi sedikit keuntungan dibandingkan kerugian yang amat besar. Kenapa mahasiswa tidak memilih jalan diskusi kepada pihak terkait, sehingga jalan terang nantinya akan tercipta. Toh tidak ada yang rugi dengan diskusi, tidak capek, tidak kepanasan, dan suara mahasiswa akan mudah diterima oleh pihak terkait, serta citra mahasiswa tidak tercoreng, sehingga peran serta mahasiswa benar-benar sebagai pembawa perubahan.
Bagi mahasiswa yang memiliki kemampuan berorganisasi yang sangat baik, tentunya mereka akan bergerak dengan secara terarah, karena mereka memiliki soft skills yang mereka dapat dari kegiatan kerorganisasian. Semua organisasi pastinya bertujuan berjalan kearah yang lebih baik, dan pastinya mengajarkan anggotanya berprilaku baik juga, terkecuali oraganisasi kriminal.
Dalam pelaksanaan kegiatan keorganisasian pasti sering menjumpai rintangan-ritangan yang menghampiri. Berbagai rintangan tersebut merupakan suatu ujian pendewasaan organisasi, apabila bisa mengatasi rintangan tersebut maka, akan semakin maju dan apabila tidak mampu mengatasinya akan semakin terpuruk. 
Apalagi kegiatan keorganisasian yang ada di ruang lingkup dunia kampus, semakin banyak saja tantangan yang harus dihadapi. Masalah yang paling krusial menimpa setiap ormawa (organisasi mahasiswa) adalah masalah keanggotaan. Dalam peran sertanya, anggota merupakan kunci sukses dalam kemajuan masing-masing ormawa. Tapi apa jadinya bila anggota tidak ada, apakah ormawa tersebut akan berjalan dengan sebagai mana mestinya ?. Jawabanya bisa iya dan bisa tidak, tergantung perjuangan dari masing-masing anggota inti. 
Ibaratkan sebuah sel apabila terjadi kerusakan maka, intiselnya akan berekasi cepat mengatasi kerusakan tersebut. Lain halnya bila intiselnya mati atau tidak ada maka, perbaikan tidak akan pernah ada yang akhirnya sel tersebut akan mati. Begitu juga yang terjadi di ruang lingkup ormawa, apabila inti sebagai penggerak tidak ada maka otomatis ormawa tersebut tidak akan berkembang. Tapi perlu diingat suatu organisasi tidak akan berkembang dengan pesat apabila tidak dapat menciptakan team work yang solid, jadi kesolidan tim merupakan faktor penting.
Masalah keanggotaan biasanya berkaitan dengan masalah kegiatan akademik. Hal tersebut dikarenakan banyak para aktifis kampus yang menjadi kurang aktif dikarenakan banyak mendapat tugas dan waktu perkuliahan yang relatif panjang dari pagi hingga sore hari, sehingga banyak dari mereka yang tidak dapat mengatur waktu mereka dengan baik. Belum lagi adanya praktikum penganti dan kompensasi. Memang benar dengan adanya praktikum pengganti dan kompensasi merupakan sarana yang baik untuk melatih kedisiplinan mahasiswa, tapi disamping hal tersebut, kedua hal itu merupakan kendala bagi para aktifis untuk dapat terus maju dan berkembang untuk membawa nama baik kampus. 
Contoh kasusnya adalah, misalkan ada berbagai macam pertemuan yang diadakan oleh ormawa yang berada diluar kampus maupun diluar provinsi, baik berupa studi banding, silaturahmi dan lainnya, apabila aktifis tersebut taat akan peraturan dan memikirkan berbagai aspek yang nantinya akan ia terima, berupa kompesasi dan praktik pengganti maka, aktifis tersebut akan berpikir dua kali untuk mengikuti acara tersebut, hal tersebut dikarenakan adanya kompesasi dan praktik pengganti, terkecuali aktifis yang kebal dan berani ambil resiko. Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut setidaknya memberikan kebijakan khusus, mengingat apa yang dilakukan para aktifis akan membawa nama baik kampus. 
Tindakan tegas dari seorang pemimpin adalah kunci utama dalam perbaikan keanggotaan, baik berupa peneguran maupun hingga pemecatan. Sebenarnya kalau kita pikir memang tidak salah seorang pemimpin memecat bawahannya karena kurang aktif tetapi apabila bawahan tersebut benar-benar kita bayar. Tapi lain halnya dengan ormawa yang semua anggotanya tidak digaji dan menganut sistem sukarela untuk terlibat dikegiatan keorganisasian, pemecatan merupakan hal yang kurang tepat untuk diambil. Hal tersebut dikarenakan tujuan dibentuknya suatu ormawa adalah sebagai media pembelajaran mahasiswa untuk dapat berinteraksi dengan orang lain dan berorganisasi dengan baik. Lain halnya dengan anggota yang mencoreng nama baik ormawa yang bersangkutan, maka sangatlah perlu untuk dilakukan tindakan pemecatan. 
Kunci dari semua masalah yang menghampiri semua ormawa yang ada terletak pada komunikasi antara semua elemen, baik atasan maupun bawahan. Dengan adanya komunikasi, kemungkinan permasalahan anggota akan sedikit banyak dapat ditanggulangi. Apabila komunikasi yang dilakukan sangatlah baik maka seluruh kegiatan keorganisasian akan berjalan dengan baik, karena tidak terjadi miss understanding diantara semua pihak. 




0 komentar: